Fanpage : HMDA SADHATA
E-mail : [email protected]

Membeli Indonesia atau Membela Indonesia


Oleh : Lusiyana A Simbolon ( Staff Departemen PSDM HMDA Sadhata )

Berkembang pesatnya tehnologi menyebabkan Indonesia juga terkena imbasnya.Indonesia pada awalnya menerima modernisasi agar kita tak lagi menjadi masyarakat yang dimarjinalkan di mata dunia, melainkan menjadi bagian dan setara dengan warga dunia lainnya. Modernisasi yang semestinya menjadi sebuah evolusi kehidupan manusia dimana terjadi perubahan besar-besaran terhadap kegiatan kerjanya yang tadinya semata mengandalkan kekuatan otot untuk mengerjakan segala sesuatunya, menjadi pemberdayaan otak dengan jalan pengumpulan dan pengembangan pengetahuan
Sehingga dengan pengetahuan-pengetahuannya itu, manusia tak lagi hanya mengandalkan kekuatan ototnya untuk mengerjakan segala sesuatu. Dengan pengumpulan dan pengembangan ilmu pengetahuan ini, manusia mencari “sumber-sumber energi lain” untuk menggerakkan mesin-mesin yang akan meng
erjakan pekerjaan harian untuk mereka. Menerima modernisasi secara bulat-bulat dari luar negeri tanpa memperhatikan semakin lama negara kita sudah semakin dijajah dari modernisasi tersebut dan umumnya yang terjajah adlah semua warga negara .

 Kaum-kaum yang kurang mampu ini masih berkutat dan sibuk memenuhi kebutuhan sehari-hari . Mereka yang ditindas tentu tak akan diberi kesempatan untuk berkembang dan mengembangkan inovasi baru tapi hanya duduk dan bersiap menerima terobosan-terobosan berikutnya yang di inovasikan untuk menambah kenyaman dan kesenangan yang menggunakan. Maka tak heranlah jika pada akhirnya masyarakat kurang mampu  jauh dari hiruk pikuk modernisasi. Meskipun tak dipungkiri pula, eses-eses dari modernisasi pun masuk ke dalam wilayah-wilayah kota besar , seperti munculnya pabrik-pabrik gula di Jawa, munculnya surat kabar akibat ditemukannya mesin cetak, munculnya kendaraan-kendaraan, dan  boomingnya dunia internet yang menguasai dan mendunia disemua kalangan. Kita hadir dalam modernisasi namun kita tidak terlibat dalam modernisasi itu sendiri. Masyarakat lebih dominan menggunakan internet daripada menggunakan kebiasaan lama dengan alasan lebih cepat dan solusi tercepat.Akibatnya  rendahnya minat baca. Perpustakaan-perpustakaan tak ramai dikunjungi, jumlah eksemplar buku yang laku tak seberapa, koran-koran sepi pelanggan dan banyak hal yang sudah semakin ditinggalkan masyarakat.

Dan sekarang gaya hidup masyarakat mulai mengikuti gaya barat,dan korea . masyarakat barat dan korea  itulah yang diadaptasi secara penuh dan mengesampingkan cara-cara hidup budayanya sendiri hingga sering terdengar ajakan untuk melestarikan budaya bangsa. Masyarakat kita begitu mengagungkan segala sesuatu yang berasal dari luar negeri (terutama Barat dan korea) – bahkan asosiasi kita terhadap kata luar negeri biasanya berpatokan pada negara-negara barat, padahal ada banyak negara yang bisa disebut sebagai luar negeri-dan menafikan segala sesuatu yang berasal dari negeri sendiri. Menjamurnya mall, kafe, tempat-tempat Clubbing, warung makan cepat saji, yang ramai dikunjungi bisa jadi barometer kehidupan masyarakat kita yang mementingkan gengsi kebaratan,kemudian menjamurnya boyband ,girlband,dan jenis musik lainya. Meskipun mengunjungi atau membeli barang-barang yang dihasilkan di tempat-tempat itu akan merogoh kocek yang tidak sedikit, tapi kita rela, kita rela membuang uang di tempat itu, tapi biasanya pelit untuk menyumbang uang untuk amal atau mungkin sekedar membeli koran. Cara berbicara yang selalu diselipkan istilah-istilah berbahasa Inggris serta menggunakan produk-produk luar negeri juga salah satu krisis kebudayaan dan kebahasaaan  dan juga kecintaan terhadap tanah air.

Solusinya adalah kembali kepada diri kita masing-masing bagaimana cara kita menerima dan menggunakan modernisasi tersebut.jangan sampai sedikit demi sedikit apa yang dimiliki indonesia jatuh terjual kepada bangsa atau negara lain.jangan sampai kita terjajah lagi.tanpa kita sadari modernisasi ini perlahan-lahan akan menjual dan melupakan tradisi dan kebudayaan yang sangat banyak di negara kita.kita selaku generasi dan orang-orang yang sudh diberi kesempatanoleh pahlawan-pahlawan kita untuk merdeka hendaknya mempertahankan dan membela negara kita terutama dari penjajahan modernisasi besar-besaran.

Kita diharapkan mampu mengendalikan modernisasi tersebut,jangan hanya pengguna tapi jadi pengendali jugasehingga bisa tetap mempertahankan jati diri hingga akhirnya tiba, kala modernisasi. Jangan sampai kita  Menghadapinya dengan gagap, dan akhirnya terlibas.Tampaknya banyak yang harus dibenahi dari diri kita dalam memandang modernisasi ini .ayo,,kita bangsa indonesia kita pasti bisa,jangan jadi ekor bagi negara-negara lain,tapi jadikanlah indonesia yang terpandang dan kita pun siap membela negara.

0 Comments: